Halloween party ideas 2015


Berwisata ziarah, dan bagi Anda wisatawan yang datang ke Jakarta, tentu tak ada salahnya untuk berziarah ke Makam Pangeran Jayakarta atau Ahmad Jacetra. Makam yang ramai dikunjungi peziarah, khususnya menjelang HUT Kota Jakarta ini terletak di Jalan Jatinegara Kaum Raya, Jakarta Timur. Makam tersebut berada di sebuah pendopo yang tertutup genteng dan terletak di sebelah barat Masjid Jami’ Assalafiyah.

Selain makam Pangeran Jayakarta, juga ada empat makam lainnya, yakni makam Pangeran Ahmad Djakerta, Lahut Djakerta, Soeria bin Pangeran Padmanegara, serta suami istri Ratu Rupiah Putri dan Pangeran Sageri. “Pangeran Lahut itu anak dari Pangeran Achmad Jayakarta. Pangeran Shogeri masih kerabatnya dan anak dari Sultan Agung Tirtayasa. Sedangkan Ratu Rafi’ah adalah istri dari Pangeran Shogeri,” kata Raden Manaf, generasi kesembilan dari keturunan Pangeran Jayakarta.


Terdapat beberapa versi tentang ketokohan Pangeran Jayakarta. Asal-usul Pangeran Jayakarta atau Jayakerta masih samar. Dari beragam versi tersebut di antaranya ada yang menyebutkan bahwa Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Akhmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten.

Menurut sebuah sumber sejarah lain, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten. Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan pulang ke Banten (Banten Lama sekarang), setelah berhasil merebut pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527. Waktu itu, ia juga berhasil menghalau pasukan Portugis.

Ada versi yang mengatakan bahwa makam Pangeran Jayakarta berdomisili di kawasan Jakarta Kota sebelum akhirnya berpindah ke Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Pada 1619, ketika dikejar-kejar Belanda, Pangeran Achmad Djaketra atau yang dikenal sebagai Pangeran Jayakarta melarikan diri ke daerah Mangga Dua, di sini, ia melepas jubahnya dan melemparkannya ke dalam sumur.

Pasukan Belanda mengira Pangeran Jayakarta jatuh ke sumur, mereka kemudian menembaki sumur dan menganggap Pangeran Jayakarta sudah mati. Tempat ini selama bertahun-tahun diyakini sebagai makan Pangeran Jayakarta. Padahal, sebenarnya Pangeran Jayakarta belum meninggal. Ia menuju ke arah Jakarta Timur. Dahulu, daerah ini masih berupa hutan dan rawa. Pangeran Jayakarta kemudian membangun sebuah tempat pertahanan sekaligus masjid yang diberi nama Masjid Assalafiyah yang artinya masjid tertua. Daerah ini kemudian diberi nama Jatinegara yang berarti pemerintahan sejati.


Selain kelima makam itu, puluhan makam mengitari sisi kanan dan belakang masjid. Semuanya makam keturunan dan kerabat Pangeran Jayakarta. Di sisi pojok paling kanan, ada makam Pangeran Sang Hyang (Raden Syarif bin Pangeran Senopati Ngalaga), tokoh Islam keturunan keluarga Kesultanan Banten yang aktif berjuang melawan penjajah Belanda.  

Bangunan makam ini pernah direnovasi di masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1968 dan juga Gubernur DKI Jakarta R. Soeprapto pada 1982. Kini, masjid Assalafiyah ditetapkan menjadi cagar budaya dan suaka peninggalan sejarah. Pengelolaannya berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.