Halloween party ideas 2015


Menyebut nama Monas, siapa yang tak kenal dengan obyek wisata yang terletak di bilangan Jakarta Pusat ini. Sebagai ikon Kota Jakarta, obyek wisata Monas yang merupakan singkatan dari Monumen Nasional menjadi pilihan wisatawan yang berkunjung ke Jakarta.

Tepatnya, Monas yang memiliki nilai historis terletak di kawasan Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Sebagai obyek wisata 'murah meriah' banyak aktifitas yang dapat anda lakukan di tempat ini, diantaranya menikmati pemandangan dari puncak monas, mengunjungi museum yang berisi diorama, melihat relief sejarah Indonesia, mendengar rekaman proklamasi, hingga berpiknik dan bersepeda.


Foto : www.jakartabisnis.com.
 Di hari Minggu, kawasan Monas kerap menjadi tempat warga berolah raga. Warga bisa berjalan kaki atau jogging mengelilingi Monas. Sementara taman di sekeliling Monas juga kerap dimanfaatkan untuk melakukan senam, dll. Sementara bagi wisatawan yang ingin menikmati kuliner atau berbelanja souvenis khas Monas dan Jakarta, tentu bisa datang ke Lenggang Jakarta di kawasan Monas ini.

Foto : www.beritajakarta.com
Untuk datang ke Monas tentu tidaklah sulit. Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan umum, seperti TransJakarta sudah meliwati kawasan wisata Monas. Begitu juga angkutan lain sudah pasti semua pengemudinya tahu obyek wisata yang berada di jantung ibukota ini.

Bicara Monas, tentu tidak lepas dari sejarah Pada masa penjajahan Belanda, Ibu Kota Republik Indonesia pernah berada di Yogyakarta, kemudian berpindah kembali ke Jakarta setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada tahun 1949. Setelah kejadian tersebut, Presiden Soekarno berencana untuk membangun sebuah tugu monumen nasional guna melestarikan dan mengenang perjuangan bangsa Indonesia, agar semangat patriotisme dari generasi penerus dapat bangkit dan berkembang, layaknya api yang berkobar. Tugu ini terinspirasi dari Menara Eiffel yang ada di Paris, Perancis. yang merupakan simbol dari bangkitnya negara tersebut.

Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1954 dibentuklah komite nasional untuk merencanakan dan membangun monumen ini. Tahun 1955 komite nasional menggelar sayembara untuk merancang pembangunan monumen nasional. Pada waktu itu banyak sekali rancangan yang terkumpul, jumlahnya mencapai 51 karya dan hanya satu yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh komite nasional, yakni rancangan milik Frederich Salaban.


Kemudian pada tahun 1960 sayembara kedua digelar dan terkumpul 136 karya, akan tetapi dari kesemuanya tidak satupun yang masuk dalam kriteria. Karena hal tersebut kemudian juri meminta Frederich Silaban untuk mengajukan hasil karyanya kepada Presiden Soekarno. Pada waktu itu Presiden kurang menyukai hasil rancangan tersebut. Presiden menginginkan sebuah monumen yang  mempunyai bentuk lingga dan yoni.


Kemudian Frederich Silaban diminta untuk membuat lagi rancangan dengan  tema sesuai yang diinginkan oleh Presiden. Dia membuat rancangan kembali dan hasil rancangan memiliki spesifikasi yang terlampau istimewa sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membangunnya. Frederich Silaban diminta untuk merancang dengan ukuran yang lebih kecil tetapi dia menolak dan menyarankan kepada pemerintah untuk menunda proses pembangunan Monumen Nasional tersebut sampai kondisi perekonomian Indonesia membaik.


Pada tanggal 17 Agustus 1961 proses pembangunan Monumen Nasional mulai dibangun, dengan memasukan R.M. Soedarsono untuk bergabung mengarsiteki pembangunan Monas bersama Friedrich Silaban. Salah satu ide dari Soedarsono dalam mendesign Monas adalah dengan memasukan angka 17,8 dan 45 yang merupakan lambang dari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring perkembangan waktu dan semakin besarnya animo warga dan wisatawan mengunjungi Monas, kini Pemprov DKI pun terus melakukan terobosan agar Monas semakin ramai dikunjungi wisatawan. Salah satunya adalah dibukanya Wisata Malam Monas.

Foto : www.merdeka.com

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.