Halloween party ideas 2015

Udara dingin mulai menyeruak saat memasuki Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah yang terletak di lereng Gunung Muria. Desa yang terletak di ketinggian sekitar 800 Mdpl ini menjadi tujuan para peziarah dari berbagai daerah untuk berwisata religi ke makam Raden Umar Said atau yang terkenal dengan sebutan Sunan Muria (salah satu Wali Songo) penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Selain wisata religi yang selalu dipenuhi para peziarah, ternyata tersimpan pula potensi wisata alam yang sangat elok untuk dinikmati, yakni Wisata Kebun Kopi dan Buah Parijotho.

Wisata kebun kopi dan buah Parijotho yang merupakan wisata alam dan agrowisata ini cocok bagi para wisatawan yang suka petualangan sebab untuk menuju lokasi kebun kopi di kawasan hutan seluas 90 hektar dan ke kebun buah parojotho harus mendaki gunung.

Mungkin bagi sebagian orang nama buah parijotho masih asing karena tanaman ini merupakan tanaman liar yang tumbuh di pegunungan.

Berbeda Bagi warga Desa Colo, tanaman liar tersebut justru dibudidayakan karena penuh mitos dan bernilai ekonomi tinggi. Dimana adanya kepercayaan yang turun temurun jika ada perempuan hamil yang memakan buah parijotho maka bayinya yang dilahirkan akan berkulit bersih dan rupawan.

Mitos ini  membuat buah yang warnanya merah keungu-unguan banyak diburu warga. Mitos ini sudah ada sejak zaman Sunan Muria dan masih dipegang teguh oleh warga Kabupaten Kudus dan sekitarnya sehingga buah ini banyak dijual di sepanjang lokasi wisata ziarah Makam Sunan Kudus.

Tokoh Desa Colo, Shokib Garno Sunarno bercerita kepercayaan turun temurun ini menjadi inspirasi bagi warga setempat untuk mengembangkan tanaman parijotho di kebun yang terletak di ketinggian sekitar 1500 Mdpl, karena tanaman ini hanya bisa tumbuh diketinggian tertentu.  Jika tertarik melihat budidaya tanaman parijotho saat ini dikembangkan wisata kebun parijotho.

Untuk menuju kebun buah parijotho memang cukup menantang adrenalin. Karena harus melewati jalan setapak. Bagi yang menyukai petualangan bisa berjalan kaki namun bagi yang berkeinginan naik sepeda motor dapat menyewa ojek yang banyak berada di bawah sekitar terminal wisata religi.

Takjub itulah kalimat yang terucap saat melihat pemandangan menuju lokasi. Pengunjung bisa menikmati indahnya Kota Kudus maupun melihat pohon meranak yang sudah langka di sepanjang perjalanan. Bahkan jika beruntung kata warga setempat akan menemukan jamur merah yang tumbuh di pohon meranak.

Saat berada di ketinggian gunung terdengar pula suara lengkingan elang Jawa yang bersahut-sahutan. Rupanya elang yang sudah mulai punah tersebut masih ada di Gunung Muria karena sengaja dilestarikan. Ada aturan adat desa setempat yang menetapkan setiap pasangan yang akan menikah untuk melepaskan sepasang burung dan menanam pohon.

Lelah menjelajah kebun buah parijotho yang buahnya bertangkai-tangkai bak bunga kembali turun ke kebun kopi untuk menikmati secangkir kopi robusta yang ditanam oleh warga di area seluas 90 hektar. Di kebun kopi terdapat gazebo milik kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang menyediakan kopi khas Muria untuk menghangatkan badan dari suhu dingin.

Lelah terbayar sudah setelah menikmati seduhan kopi diantara panorama pegunungan dan hamparan tanaman kopi ditemani camilan jangklong rebus.

Saatnya turun ke Desa Colo untuk melihat aktivitas desa yang tak pernah tidur tersebut. Karena ada ratusan bahkan ribuan orang yang datang berwisata ziarah yang dimanfaatkan oleh warga  untuk mengais rezeki dari wisata religi yang dikunjungi para peziarah selama 24 jam tersebut dengan menjual jasa ojek, warung makan, toko sovenir maupun oleh-oleh khas Kudus.

Adanya wisata memetik buah kopi dan parijotho ke depan diharapkan menjadi destinasi wisata saat mengunjungi desa ini selain wisata religi. Pemkab Kudus Jateng berencana membangun akses ke lokasi wisata kebun kopi dan parijotho agar para wisatawan semakin berminat berkunjung ke Desa Colo. (Traveller : Sutini).

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.