Halloween party ideas 2015



Raut-raut wajah yang ceria terpancar dari para petani kopi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang terletak di lereng Gunung Muria. Setelah menanti selama 7-8 bulan, hamparan tanaman kopi seluas 90 hektar mulai panen. Butiran-butiran biji kopi sudah mulai memerah dan siap petik.
Sebagai ungkapan rasa suka cita akan berkah buah kopi yang melimpah, para petani pun menggelar acara pesta panen kopi atau 'wiwit' kopi.

Acara wiwit yang digelar sore hari menjelang matahari tenggelam diawali dengan tarian panen kopi oleh anak-anak dari lereng Gunung Muria. Dilanjutkan acara kenduri massal oleh para petani kopi. Nasi kenduri berupa nasi putih dilengkapi aneka lauk dan ingkung ayam dibawa dari rumah masing-masing. Kenduri sendiri dilakukan di tengah-tengah hamparan perkebunan kopi yang berada di hutan lindung milik Perhutani.

Ratusan petani berbondong-bondong berjalan kaki maupun naik ojek ke lokasi di ketinggian sekitar 1.000 Mdpl untuk mengikuti prosesi wiwit kopi tersebut. Prosesi wiwit dipimpin oleh sesepuh desa dan tokoh-tokoh masyarakat, hadir juga Bupati Kudus beserta jajaran pejabat dari Perhutani.

Usai didoakan semua berbaur menikmati nasi kenduri. Masyarakat yang datang bisa ikut menikmati nasi-nasi tersebut dalam suasana yang penuh keakraban. Dinginnya udara sore hari di pegunungan Muria menambah nikmatnya makan pada acara kenduri massal. Ditemani secangkir kopi muria yang dibuatkan oleh warga rasanya menjadi luar biasa.

Hari semakin gelap namun acara Wiwit Kopi masih meriah bahkan tampak obor-obor menerangi sepanjang jalan dari hutan untuk kembali ke Desa Colo. Jalanan yang naik turun di tepian jurang tak menyurutkan warga untuk mengikuti rangkaian acara Wiwit Kopi. Karena acara tradisi tersebut sangat dinantikan warga.

Salah satu warga, Agus berharap tradisi Wiwit Kopi menjadi agenda wisata Kabupaten Kudus sehingga banyak lagi warga yang datang.

Ketua PMPH Desa Colo Muh Shokib berpromosi jika alam pegunungan yang indah di hutan Muria sangat mendukung dijadikan wisata bahkan untuk dijelajah. Para petani kopi di lereng Gunung Muria telah mengelola wisata alam kopi dan membuat branding

"Kopi muria" itulah kopi jenis robusta hasil ditanam warga Colo di lereng Gunung Muria.

Untuk cita rasa kopi Muria tentu terasa berbeda dengan kopi robusta di tempat lain sebab cita rasa khas Kopi Muria didapat dari hasil tanaman kopi ditanam di hutan dengan masih banyak pohon-pohon langka seperti pohon meranak.

Masih lestarinya hutan lindung di lereng Muria juga membuat masih dihuni satwa langka seperti elang jawa dan macan jawa.

Warga yang juga petani kopi telah sepakat menjaga kelestarian hutan bahkan ada aturan setiap ada warga yang menikah harus menanam pohon ataupun melepas burung. Tradisi tersebut juga tampak pada acara wiwit kopi yang dilepaskanya puluhan burung kealam bebas. Usai wiwit kini para petani bisa segera memanen sehingga rasa lelah pun terbayar.

Butiran-butiran biji kopi ranum yang dipetik telah memenuhi karung-karung untuk dibawa turun ke desa. Kopi-kopi tersebut siap dijual ke berbagai daerah dan juga dipasok untuk kedai-kedai kopi di Kota Kretek.(Traveller: Sutini)



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.