Halloween party ideas 2015




Perjalanan kami mengikuti Turkey Moslem Educational Trip pada hari pertama, Senin (28/11) dimulai dengan mengunjungi kawasan wisata Sultan Ahmed di Istanbul. Kawasan wisata ini sarat dengan nilai sejarah baik di masa Romawi maupun masa kesultanan Ustmaniyah.

Di kawasan ini, terdapat beberapa situs sejarah antara lain Museum Hagia Sophia, Masjid Biru (Blue Mosque), dan Hippodrome. Perjalanan menuju kawasan wisata ini dari Bandara Internasional Ataturk hanya ditempuh sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 21 kilometer.

Osman, local guide Dorak Tour yang setia menemani perjalanan kami di Turki mengarahkan bus yang kami tumpangi ke kawasan wisata Sultan Ahmed setelah sebelumnya makan pagi di Restoran Hotel Ramadha, Istanbul. Dalam perjalanan menuju lokasi wisata ini, Osman menceritakan soal sejarah bedirinya kota Istanbul.

Kota Istanbul yang terletak di antara selat Bosporus dan Laut Marmara ini dibangun pada abad 7 sebelum masehi oleh Bizaz, seorang bangsawan Romawi kuno. Bizaz membangun kota ini untuk menarik pajak bagi kapal-kapal yang akan melewati Selat Bosporus. Dalam perkembangannya, kota ini pun disebut sebagai bizantium yang mengambil nama dari sang pendirinya. Daerah ini menjadi bagian dari Kerajaan Romawi yang beribukota di Italia.

Pada abad 4 sebelum masehi, Romawi terpecah menjadi dua yakni Romawi Barat yang beribukota di Italia dan Romawi Timur dengan ibukota Bizantium dengan penguasannya adalah Konstantinos. Konstantinos membangun daerah ini lebih maju dan kemudian mengubah nama ibukot Romawi Timur menjadi Konstantinopel yang berlaku dalam waktu begitu lama.

Sampai kemudian pada tahun 1453, Muhammad Al Fatih menaklukan Kerajaan Romawi Timur dan mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul. Kota ini pun menjadi Ibukota Kesultanan Othoman dan dalam perkembangannya orang Turki menyebutnya sebagai Istanbul.

Setelah mendengarkan penjelasan panjang soal Kota Istanbul dari Osman, bus yang kami tumpangi pun tiba di kawasan wisata Sultan Ahmed dalam . Para peserta pun turun untuk menuju objek wisata yang pertama dikunjungi yaitu Museum Hagia Sophia atau kebanyakan orang Turki menyebutnya sebagai Aya Sofia.

Meski gerimis masih turun, para peserta pelatihan Turkey Moslem Educational Trip bergegas menuju museum tersebut. Untungnya, ada penjual payung plastik di dekat parkiran bus, sehingga peserta tidak sampai basah kena gerimis yang makin deras.


Museum Hagia Sophia

Menginjakan kaki di Hagia Sophia, kita seperti bukan masuk ke sebuah museum, tapi masjid atau gereja. Iya, museum ini awalnya memang sebuah gereja yang dibangun pada tahun 532 M oleh penguasan Romawi Timur. Salah satu ciri yang masih terlihat bahwa ini adalah sebuah bangunan gereja adalah adanya gambar Bunda Maria dan Yesus Kristus di langit-langit kubah museum ini.

Di sisi lain, ornamen-ordi museum ini juga kental dengan nuansa ke-Islaman seperti adanya lafal Alloh dan Muhammad dalam bahsa Arab yang biasa terpasang di masjid. Di bagian dalam juga terdapat terdapat tempat mimbar khutbah khas masjid di Arab Saudi.

museum-hagia-sophia1Museum Hagia Sophia
Osman menjelaskan, saat penaklukan Romawi oleh Muhammad Al Fatih pada 1453, gereja Hagia Sophia memang berubah fungsi menjadi masjid. Namun, setelah runtuhnya kekhalifah Ustmaniyah pada tahun 1924, dengan alasan untuk menghormati penganut kristen di Turki, Presiden Kemal Attaturk mengubah masjid tersebut menjadi museum.

Menurut Osman, museum Hagia Sophia memiliki kubah terbesar di Istanbul, yakni diameter 37,5 meter dan tinggi dari lantai ke langit-langit mencapai 54 meter. Beberapa kali, kubah museum ini direnovasi karena adanya pelapukan.

Usai penjelasan dari Osman, para peserta pelatihan pun mengeksplorasi museum Hagia Sophia karena banyak cerita-cerita menarik, misalnya ada tiang harapan di salah satu sudut museum ini. Ada juga gambar Raja Romawi yakni Konstantinos dan Raja Justinus menghadiahi gereja Hagia Sophia kepada Yesus Kristus.


Hippodrome

Tempat kedua yang kami kunjungi di kawasan Sultan Ahmed adalah Hippodrome, sebuah tanah lapang yang dulunya ada sebuah bangunan untuk tempat pacuan kuda di masa Romawi. Dalam kompetisi ini, ada dua tim yang berlomba yakni tim merah yang didukung oleh kaum kaya dan tim biru yang didukung masyarakat biasa.

Di Hippodrome terdapat Obelish atau menara batu hadiah dari penguasan mesir pada abad ke-4 kepada Pemerintah Romawi. Obelish ini sebenarnya potongan dari Obelish yang masih ada di Mesir. Diperkirakan karena Obelish ini terlalu besar sehingga tidak bisa dibawa seluruhya ke Turki. Dalam Obelish ini terdapat tulisasn abjad Mesir kuno atau hieroglif.

Selain Obelish, di lapangan Hippodrome terdapat air mancur yang dibangun pada tahun 1908. Air mancur ini dibangun oleh arsitek Jerman sebagai hadiah Pemerintah Jerman kepada Sultan Abdul Hamid selaku pengusa kekhalifahan Ustmaniyah saat itu.


Blue Mosque (Masjid Biru)

Suara azan dzuhur menggema dari Blue Mosque (Masjid Biru) atau Masjid Sultan Ahmed yang lokasinya tidak jauh dari Museum Hagia Sophia dan Hippodrome. Dengan berjalan kaki, kami menuju masjid tersebut untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur berjamaah.

Musim dingin yang terjadi di Turki saat ini membuat air wudhu begitu dingin dan menusuk tulang. Usai berwudhu, kami pun bergegas masuk ke dalam masjid yang dibangun antara tahun 1609 dan 1616 pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I.

Masjid Biru ini memiliki beberapa bagian area. Sebagaimana pada umumnya masjid, terdapat area untuk menjalankan Ibadah Sholat, terdapat pula area pemakaman berisi makam Sultan Ahmed dan keluarga raja lainnya, Madrasah dan Rumah Sakit.

Masjid ini dikenal sebagai Masjid Biru karena terdapat karya indah seni susunan keramik buatan tangan pada bagian interior kubah yang didominasi unsur warna biru.

Usai mengunjungi kawasan wisata Sultan Ahmed, rombongan pelatihan melanjutkan perjalanan ke Bursa dengan menyeberangi Selat Marmara. (Dikutip dari: www.kabarumrahhaji.com).

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.