Halloween party ideas 2015


Keramahan Penduduk lokal di kawasan Wisata Air Terjun Kedung Gender maupun Air Terjun Kedung Poso yang terletak antara desa Dukuh Waringin dan desa Japan kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah terhadap wisatawan, membuat rasa lelah menuju tempat wisata tersebut terbayar. Wisata Air Terjun Kedung Gender maupun Air Terjun Kedung Poso merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya.
     
Mungkin nama air terjun tersebut masih asing di telinga karena air terjun yang berada di lereng Gunung Muria merupakan destinasi wisata baru yang dikelola penduduk setempat. Meski begitu tak perlu khawatir akan tersesat, karena sudah ada banner besar dan petunjuk jalan.

Saya bersama beberapa teman sengaja memanfaatkan liburan mendatangi tempat wisata tersebut. Karena baru pertama kali ke lokasi kami memilih melalui jalur desa Japan. Terlihat ada petunjuk-petunjuk arah yang memudahkan untuk ke lokasi. Kami ikuti sampai petunjuk habis berganti dengan tulisan tempat parkir didepan rumah-rumah warga. Kendaraan kami titipkan disalah satu rumah warga didepan Masjid. kemudian kami berjalan disamping masjid dan beberapa rumah warga menuju lokasi. Keramahan warga setempat benar-benar terasa, mereka menyapa dan mengarahkan setiap pengunjung yang lewat disamping rumah mereka.       
    
Mbah Khoiriyah salah satu warga yang rumahnya tepat menuju ke lokasi Air terjun Kedung Gender sempat bercerita setelah dibuka menjadi tempat wisata hampir tiap hari ada banyak pengunjung yang datang tidak hanya dari Kudus. Kondisi wisata Air terjun Kedung Gender benar-benar dijaga kelestariannya oleh warga sehingga tidak ada yang berani menebang pohon apalagi ada mitos yang konon tempat tersebut ada kaitannya dengan Waliyullah.
     
Setelah berbincang sebentar, saya turun kelokasi air terjun dengan menuruni tebing yang telah dibuatkan jalan setapak  sehingga ketika berpapasan dengan pengunjung lainnya harus berhenti. Sekitar 10 menit tibalah di lokasi,  takjub! ternyata air terjun ini benar-benar indah. Meski tidak terlalu tinggi hanya sekitar 15 Meter, Alamnya masih terjaga dan udaranya sangat sejuk. Lumayan bisa menenangkan pikiran karena jauh dari hiruk-pikuk kota.
    
Di bawah air terjun terdapat kolam yang tidak terlalu dalam dan memiliki air yang bening. Pengunjung yang datang pun biasanya langsung menceburkan diri ke bawah air terjun untuk merasakan sensasi mandi di bawah air terjun yang masih alami. Banyak juga hanya sekedar menikmati sensasi percikan air terjun yang bak salju dengan duduk-duduk diatas bebatuan. Saya termasuk yang datang tanpa membawa baju ganti sehingga terpaksa menahan hasrat untuk menceburkan diri ke kolam. Saya hanya bisa menikmati percikan-percikan air yang tertiup angin sambil berfoto di atas batu, di aliran sungai atau di bawah tebing. Tapi harus hati-hati karena batu-batu di lokasi tersebut cukup licin.
     
Setelah berendam di kolam beberapa teman beranjak ke warung-warung yang bertebaran di lokasi. Banyak warga yang berjualan aneka makanan dan minuman ringan. Secangkir kopi khas Muria dan mendoan yang masih panas menjadi pilihan saya. Harga secangkir Kopi Muria tidak menguras kantong hanya Rp3.000 dan harga Mendoan Rp1.000. Disela-sela nikmati secangkir kopi, mata saya tertuju ke tulisan yang dipasang dipinggir warung, disitu terdapat tulisan berupa himbauan jangan buang sampah sembarangan dengan kata yang memikat dan telah disiapkan kantong sampah.     

Puas menikmati air terjun Kedung Gender, saya penasaran mendengar cerita warga kalau ada air terjun lagi dikawasan tersebut. Saya pun kembali menyusuri jalan setapak mencari lokasi air terjun Kedung Poso yang dimaksud. Jalan ke lokasi lebih landai melewati kebun kopi dan pohon-pohon alpukat yang sedang berbuah. Sesekali terdengar suara serangga hutan yang nyaring. Sekitar 10 menit berjalan tibalah dilokasi tampak rombongan anak-anak muda yang asyik bersalto dari terjunan air ke kolam. Karena air terjun yang satu ini hanya berketinggian 5 meter. Merasa puas saya bersama rombongan kembali ketempat parkir untuk pulang. Tarif parkirpun ternyata hanya seikhlasnya dimasukan ke kotak kas.   

Sayang sekali kali ini, saya pulang tanpa membawa oleh-oleh karena buah Jeruk Pamelo (sejenis jeruk bali madu) yang ditanam dipekarangan rumah warga belum saatnya panen. Tapi saya bertekad untuk kembali suatu hari nanti melalui rute jalur desa Dukuh Waringin- Gembong Pati untuk mengobati rasa penasaran. (Traveller: Sutini)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.