Halloween party ideas 2015

Sensasi kelezatan Sate Maranggi memang tak diragukan lagi. Kuliner khas Purwakarta ini selalu menjadi incaran wisatawan saat berkunjung ke kabupaten tersebut. Tidak sulit untuk bisa menikmati Sate Maranggi, sebab banyak dijajakan pedagang keliling, warung dan rumah makan.  

Soal kelezatan dan kenikmatan Sate Maranggi tentu sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Namun, mungkin sebagian masyarakat belum mengetahui asal muasal dari kuliner yang menjadi ikon Purwakarta ini.

Memang banyak versi yang menyebutkan soal asal muasal Sate Maranggi. Sebut saja cerita Mak Ranggi penjual sate yang biasa berjualan di daerah Cianting, Purwakarta.

Konon, ratusan tahun lalu Mak Ranggi sangat dikenal karena kelezatan sate yang dijualnya dan menjadi buah bibir di masyarakat. Sehingga dengan tidak sengaja, ketika menyebutkan sate, pasti masyarakat mengakhirinya dengan sebutan 'Maranggi'.

Versi lain menyebutkan bahwa Sate Maranggi berasal dari para pendatang daratan China yang menetap di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat atau para pendatang yang hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda.

Karenanya, awalnya Sate Maranggi bukan terbuat dari daging sapi atau kambing seperti sekarang ini, melainkan dibuat dari daging babi. Salah satu indikasi Sate Maranggi berasal dari China karena bumbu rempah yang digunakan Sate Maranggi sama persis dengan dendeng babi dan dendeng ayam yang dijual di Hongkong, China dan Taiwan.

Setelah bertransformasi dan terjadi asimilasi di mana seiring dengan berkembangan budaya dan ajaran Islam masuk ke tanah Jawa, banyak penduduk yang menjadi mualaf. Dalam ajaran Islam memakan daging babi hukumnya haram. Oleh karenanya kemudian Sate Maranggi berubah menjadi daging sapi sebagai bahan dasarnya.

Jika Sate Maranggi banyak 'bertebaran' di Purwakarta, namun untuk soal rasa bisa jadi berbeda-beda. Tentu ini tidak lepas dari resep yang dimiliki masing-masing pedagang Sate Maranggi.

Sebut saja, Sate Maranggi Haji Yetti yang berada di Kecamatan Bungursari, Purwakarta, Jawa Barat. Meski tidak memakai bumbu kacang sebagaimana layaknya sate dan hanya menggunakan kecap cabai dan tomat, namun kelezatan Sate Maranggi Haji Yetti layak mendapat acungan jempol.

Haji Yetti sedikit membuka resep Sate Marangginya di mana menurutnya sebelum dibakar, Sate Maranggi terlebih dahulu direndam dengan menggunakan bahan rempah-rempah.

Di warung Sate Maranggi Haji Yetti Cibungur, wisatawan dapat menikmati beragam sate, seperti sate sapi, sate kambing dan sate ayam. Kesan pertama adalah ketika mencicipi Sate Maranggi daging sapi adalah teksturnya yang lembut dan sangat terasa bumbunya. Matang daging yang pas menciptakan citarasa yang luar biasa. Namun, tekstur dan karakter rasa dari daging sapi jauh berbeda dengan daging kambing. Perbedaan yang paling mencolok adalah keberadaan lemak yang mendominasi pada sate kambing. Karakter dagingnya yang didominasi oleh lemak menciptakan karakter daging yang gurih dan beraroma sedap.


Selain menikmati Sate Maranggi yang harganya Rp4.000 per tusuk ini, wisatawan juga dapat menikmati kuliner lain seperti nasi tutug, nasi bakar, siput, dan aneka minuman juice serta es kelapa. Dan sambil menunggu pesanan datang, beberapa pelayan menawarkan gorengan seperti tahu goreng untuk cemilan.

Bagi wisatawan yang penasaran ingin menikmati Sate Maranggi, pilihan untuk singgah di Sate Maranggi Haji Yetti Cibungur sudah tepat. Sebab, lokasinya sangat strategis yakni di Jalan Raya Bungursari, dekat dengan pintu keluar tol Cikampek. Selain parkirnya yang luas, wisatawan juga dapat berbelanja souvenir khas Purwakarta dan juga berselfie ria sambil membakar Sate Maranggi. (Traveller: Sigit Kurniawan)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.