Halloween party ideas 2015


Tentu semua traveller tahu Kota Gede, Yogyakarta. Kota yang dulu menjadi ibukota Kerajaan Mataram Islam. Berkunjung ke kota ini tak lengkap rasanya bila tak jalan-jalan keliling kota, termasuk jalan-jalan di perkampungan tua yang masih ada selama berabad-abad. Kampung Alun-alun namanya.

Bagi para traveller yang ingin ke tempat itu, sangatlah gampang! Bagi wisatawan lokal atau mancanegara tinggal jalan beberapa puluh menitan dari pusat Kota Yogyakarta menuju arah Banguntapa, Bantul. Karena secara geografis, Kota Gede memang dekat perbatasan antara wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. 

Kota Gede sendiri menurut sejarahnya dibangun oleh Ki Gede Pemanahan. Kota Gede oleh putra Ki Gede Pemanahan, yaitu Sutawijaya atau Panembahan Senopati dijadikan ibukota Kasultanan Mataram pada tahun 1588 masehi. Sisa-sisa peninggalan kerajaan ini masih bisa dilihat walau sudah tak utuh lagi.

Bila traveller usai mengunjungi dan ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram di Jalan Masjid Agung, Jagalan, Banguntapa yang masuk wilayah Bantul. Tinggal menyeberang jalan sudah bisa melihat rumah-rumah tua tradisional Jawa. 

Namun, bila traveller mau berjalan sekitar 50 meter ke arah selatan dari komplek makam raja dan Masjid Agung. Traveller akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang bertuliskan "Cagar Budaya". Wilayah ini masuk Desa Purbaya, Kota Gede, Yogyakarta. Orang menyebutnya Perkampungan Alun-alun, karena kawasan bekas alun-alun Kota Gede di masa Kasultanan Mataram.

Masuklah melalui gapura itu, di sanalah akan melihat rumah-tumah tradisional Kota Gede yang masih terawat dengan baik dan masih difungsikan sebagai rumah tempat tinggal warga. Berbagai bentuk, model rumah tradisional Joglo akan anda lihat. Rumah-tumah itu dulunya merupakan komplek perumahaan para punggawa atau prajurit Mataram. Bahkan traveller bisa masuk dan bincang-bincang dengan pemilik rumah. 

Berjalan ke selatan sedikit lagi, traveller akan melihat tiga pohon Beringin yang tepat berda di tengah jalan. Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan "Watu Gilang", yaitu batu berbentuk segi empat dengan ukuran lebih dari 1 x 1 meter. Batu ini adalag tempat Panembahan Senopati bertafakur. 

Masih di dalam bangunan itu, juga ada "Watu Cantheng", yaitu batu bulat berwarna kuning. Menurut cerita, batu bulat ini adalah mainan bola putra Panembahan Senopati bernama Hastarengga. Ada yang meyakini batu bundar ini adalah peluru meriam. Juga terdapat "Watu Gentong" batu yang berupa gentong tempat menyimpan air untuk wudhu. 

Nah, selama berada di kampung itu, traveller juga akan melihat sisa-sisa benteng Kedathon atau Keraton Kasultanan Mataram. Sebagian beberapa meter utus, sebaguan sudah menjdi rumah penduduk. Benteng Cepuri atau Benteng Dalam dengan parit pertahanan di sekeliling keraton yang luasnya hampir 400 x 400 meter.


Reruntuhan benteng yang asli masih bisa terlihat. Tembon benteng itu tebalnya 4 meter terbuat bata merah. Benteng Cepuri sendiri mwrupakan bagian pertahanan keraton yang sebenarnya dahulu berbentuk badan Semar. 

Jalan-jalan menyusuri Kota Gede, ternyata bisa memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang berjaya di seluruh Pulau Jawa. Selain itu, bisa melihat dari deket kehidupan masyarakat sekitarnya.

Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun dan tidak komersial. Traveller tidak akan diganggu pedagang asongan. (Traveller: Romanovitch).

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.