Halloween party ideas 2015


Goa Kreo adalah salah satu tempat wisata yang ada di Semarang Jawa Tengah. Kawasan Wisata Goa Kreo merupakan areal hutan seluas ± 5 hektar yang terletak di daerah perbukitan (Gunung Krincing ) dan lembah Sungai Kreo, tepatnya di Dukuh Talun Kacang Kelurahan Kandri Kecamatan Mijen Kota Semarang atau berjarak lokasi sekitar ± 13 km dari pusat kota Semarang.

Di tempat wisata ini menyimpan keunikan tersendiri karena terdapat puluhan kera yang jinak dan bertingkah lucu. Keberadaan kera-kera di Goa Kreo tidak lepas dari sejarah yang dipercaya masyarakat sekitar yang erat kaitannya dengan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Konon Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut. Legenda Goa Kreo tak terpisahkan dengan legenda asal mula nama Jatingaleh, sebuah kelurahan di Bukit Gombel, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

Dikisahkan, seorang Sunan Kalijaga yang dapat berkomunikasi dengan tumbuhan dan binatang. Sewaktu Sunan Kalijaga mengambil potongan kayu jati yang akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak dari pohon jati yang berada di lereng Bukit Gombel ternyata pohon jati itu sudah tidak ada. Sunan Kalijaga kemudian mencari ke mana pohon jati itu berpindah. Dia terus mencari sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Goa Kreo. Sedangkan tempat asal pohon jati itu kemudian diberi nama Jatingaleh (bahasa Jawa) yang artinya ”jati berpindah”.

Akhirnya Sunan Kalijaga menemukan kayu jati yang berpindah itu, tetapi berada di tempat yang sulit untuk diambil. Datanglah empat ekor kera, masing-masing berbulu merah, kuning, putih, dan hitam. Kera-kera itu menyampaikan niat baik ingin membantu Sunan Kalijaga mengambil kayu jati yang diinginkan. Sunan Kalijaga menerima bantuan dengan senang hati, akhirnya kayu jati itu berhasil diambil dari tempat yang sulit.

Saat Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Kerajaan Demak untuk dibuat saka guru Masjid Agung Demak, keempat kera itu menyatakan ingin ikut serta. Karena mereka bukan manusia, Sunan Kalijaga keberatan. Namun sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah kawasan hutan di sekitar goa. Mereka diberi kewenangan ngreho (bahasa Jawa) yang berarti ”memihara” atau ”menjaga”.

Terlepas dari legenda yang melingkupi, destinasi wisata ini menjadi pilihan saya ketika berkunjung ke Semarang untuk berakhir pekan. Goa Kreo setiap hari dibuka mulai pukul 6.00-18.00 WIB. Dengan harga tiket masuk Rp. 3000 perorang. Wisata yang murah untuk melepas kepenatan rutinitas sehari-hari.

Saya bersama keluarga besar menyusuri kawasan wisata ini dan juga mengeksplore makanan tradisional yang dijajakan warga sekitar. Langkah pertama dari tempat parkir beberapa ekor kera sudah menyambut bahkan saudara saya asyik berselfi didekat kera-kera tersebut.  Ada rasa takut saat saya berada diantara kerumunan kera takut minuman ringan yang saya bawa 'direbut' namun apa yang saya takutkan tidak terbukti karena kera-kera ini tidak terusik dengan lalu lalang wisatawan. Hanya ada satu dua ekor yang usil mengincar makanan ataupun minuman yg dibawa pengunjung itupun untuk minuman yang manis tidak mau air mineral.

Saya terus menyusuri tangga dan jembatan penghubung yang mengarah ke goa yang menjadi sarang puluhan kera liar disini. Saya sempat bertemu kawanan kera, ada seekor kera terlihat menyusui anaknya lalu mengendongnya berlari menjauh dari saya sangat mengemaskan.

Untuk mencapai mulut Goa, pengunjung harus melewati anak tangga yang cukup banyak dan curam. Disebelah Utara Goa Kreo terdapat air terjun yang berasal dari berbagai sumber mata air yang jernih dan tidak kering meski musim kemarau panjang. Saya sempat masuk ke dalam Goa bersama dengan sang juru kunci. Juru kunci bercerita kera-kera yang menghuni kawasan Kreo mempunyai jam istirahat siang antara pukul 13.00 - 15.00 WIB, kera-kera tersebut akan berbondong-bondong ketempat peristirahatan mereka diatas bukit.

Cerita dari juru kunci ternyata bukan isapan jempol belakang karena selang beberapa saat saya dikejutkan dengan puluhan ekor kera yang terbagi dalam beberapa kelompok berjalan beriringan kearah bukit...takjub!

Puas bermain dengan kawanan penghuni Kreo, saya melepas pandangan kearah Bendungan Jatibarang. Panorama sangat indah ditambah sejuknya udara membuat betah berlama-lama ditempat wisata ini.

Perut terasa lapar jadi saya mencari makanan khas yang dijajakan warga setempat. Saya menemukan aneka umbi-umbian yang dijual mulai dari kerut (garut), jangklong, gembili, ubi talas maupun ketela rambat. Makanan tradional yang menyehatkan...saya memborong juga untuk oleh-oleh. (Traveller: Sutini)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.