Halloween party ideas 2015


Mendengar sebutan Mentawai biasanya sebagian orang akan terbesit dengan salah satu olahraga air yang sangat populer di kalangan orang bule, ialah olah raga air jenis surfing. Mentawai memang terkenal cukup familiar sebagai surganya bagi para peselancar di kelas kancah dunia. Terlebih, Kepulauan yang menyuguhkan spot ombak besar di bagian barat Pulau Mentawai sangat cocok untuk melakukan olah raga berselancar.

Tapi saya ke Mentawai bukan untuk surfing. Sebab, saya memang tidak pandai bermain surfing. Mulanya saya berkesempatan ke Mentawai nggak sengaja, berawal dari ajakan kawan yang juga pernah mengenyam pendidikan bersama pada saat masih kuliah. Dari ajakan itu saya pun mengiyakan untuk ikut dengan rombongan kawan dalam perjalanan menuju pulau nan asri di daerah yang masih masuk dalam Pemerintahan Provinsi Sumater Barat. Ini adalah pengalaman pertama saya ke Mentawai, walau saya sendiri pun sudah terbilang cukup akrab dengan daerah Sumbar yang juga terkenal dengan masakan khas seperti rendang.


Sedikit bercerita mengenai Kepulauan Mentawai. Mentawai merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Barat. Yang terdiri dari ratusan pulau besar kecil. Empat pulau utama yang banyak penduduknya adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah Tuapejat di Pulau Sipora. Saya ke Mentawai sempat singgah terlebih dahulu ke Pulau Siberut. Karena disini saya akan bercerita based on my experience , berarti saya bakal bahas tentang Pulau Siberut dan Pulau Masilok. Dua pulau yang sempat saya kunjungi di April tahun 2017 lalu.

Sebenarnya, kalau kita mau ke Siberut Selatan mudah saja. Ada speedboat kapal cepat dari Padang ke pelabuhan Maileppet setiap hari. Berangkat setiap jam 7 pagi pas. Ngak ada delay. Apabila telat sudah pasti tertinggal dan menunggu esok hari lagi. Awalnya saya pikir sebentar saja naik Speedboat dari Dermaga Muara Padang ke Siberut. Rupanya nggak cukup sejam dua jam, waktu tempuh bisa lebih 4 jam. Waktu itu cuaca lagi bagus. Katanya kalau cuaca buruk, bisa lebih dari empat jam. Selain pakai speedboat, alternatif lain ke Maileppet dari Padang, bisa sewa kapal nelayan. Tapi kalau naik kapal nelayan, bisa 12 jam katanya. Tiket speedboat per orang Rp250.000,- ya, terbilang cukup merogoh kocek dalam. Tapi mau bagaimana lagi, ngak ada pilihan yang lebih baik. Kalo pakai kapal nalayan malah jadi lama dan keselamatan ngak terjamin. Walaupun mahal, penumpang speed boat penuh banget. ngak ada kursi kosong. Oh iya, Jangan beli tiket speedboat mendadak. Dijamin nggak kebagian.

Untuk rute menuju Kepulauan Mentawai, terlebih dahulu, Saya akan menyamakan posisi teman-teman terlebih dahulu. Kita start dari Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Flight dari CGK-PDG (Padang, Sumatera Barat) . Usahakan kedatangan yang malam hari. Sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau, kalian bisa pesan Taxi yang ada di bandara menuju Pelabuhan Mentawai Fast di Muaro Padang. Atau karena sekarang sudah ada ojek online, kamu bisa order ojek online untuk mencapai tujuan. Lama perjalanan kisaran 20-30 Menit. Sebaiknya, booking terlebih dahulu untuk tiket keberangkatan.

Selanjutnya, dari Muaro Padang perjalanan menuju Pulau Siberut akan ditempuh selama 5-6 jam lamanya perjalanan, Nah sesampainya di Pelabuhan Siberut biasanya sudah sekitar jam 15:00. Bagaimana caranya untuk keliling pulau. Atau bagaimana caranya untuk ke Dusun Buttui. Satu-satunya akses untuk keliling pulau, maupun itu untuk mencapai spot diving dan surfing atau hanya sebatas keliling pulau adalah dengan cara menyewa kapal, atau speedboat. Tetapi saya memilih menggunakan kapal kecil yang disebut pong-pong. Dengan kapal itu membawa saya ke pulau Masilok.

Sekedar info, Pulau Siberut baru-baru ini mendapat perhatian internasional sebagai kawasan konservasi prioritas, untuk budaya unik etnis Mentawai dan endemik keanekaragaman hayati yang perlu dilestarikan. Meski pulau ini memiliki banyak tawaran, potensi tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya terutama untuk pariwisata. Sebagian besar pengunjung ke pulau ini hanya tertarik untuk melihat budaya suku asli, seperti klan komunal di rumah tradisional UMA di sepanjang bantaran sungai.

Taman Nasional Siberut menempati bagian barat pulau itu, mulai dari pantai utara. Saat ini, Proyek Konservasi Keanekaragaman Hayati Terpadu yang diselenggarakan oleh PHPA, MOF, bersama dengan pemerintah daerah, LSM lokal dan institusi lainnya, melaksanakan program konservasi berbasis masyarakat.

Pulau Siberut ditandai oleh iklim khatulistiwa basah, dengan suhu minimum dan maksimum 22oC (71.6F) dan 31o C (87.8F). Musim kemarau adalah dari bulan Februari sampai Juni dan musim hujan mulai bulan Juli sampai Januari. Siberut berbukit dengan variasi elevasi yang lebar. Hampir 60% ditutupi oleh hutan hujan tropis dengan banyak jenis hutan seperti hutan dipterocarp primer, hutan campuran primer, hutan rawa, hutan Barrington dan hutan bakau. Juga, ada banyak sungai di kepulauan dengan sistem anak sungai yang kompleks.

Siberut adalah pulau terbesar dan paling utara dari kepulauan mentawai terletak 150 kilometer sebelah barat Sumatera di Samudera hindia. Sebagai bagian dari Indonesia, pulau ini menjadi rumah terpenting bagi Suku mentawai. Paro barat pulau ini telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Siberut pada 1993. Sebagian besar pulau ini ditutupi oleh hutan hujan, tetapi sangat disayangkan digunakan untuk pembalakan komersial.

Pada kesempatan itu pula saya berkunjung ke salah satu pulau yang masih asri dengan suasana atmosfer pulau yang masih terbilang liar, yaitu pulau Masilok yang dapat ditempuh dengan speedboat, sekitar 30 menit dengan menyusuri gugusan pulau kecil di sekitar Siberut Selatan. Di sepanjang garis pulau terlihat juga rimbunnya hutan bakau menghiasi perjalanan menuju Pulau Masilok. Perjalanan yang menyenangkan. (Traveller: Rangga Darma)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.