Halloween party ideas 2015


Keberadaan obyek wisata Situ Cangkuang dan Candi Cangkuang, Garut, Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari Kampung Pulo. Letaknya berada di tengah Situ Cangkuang atau tepatnya di Desa Cangkuang, Kampung Cijakar, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebelum sampai di Candi Cangkuang, wisatawan akan melewati Kampung Pulo.

Kampung Pulo merupakan salah satu kampung adat yang ada di Jawa Barat. Terlebih, warganya masih mempertahankan adat istiadat dan tatali piranti karuhan dalam kehidupannya, termasuk bangunan yang ada di sana.

Yang menarik dan unik, di Kampung Pulo adalah kita bisa melihat jejeran bangunan adat yang hanya berjumlah enam rumah ditambah satu bangunan masjid kecil. Ke enam rumah adat ini konon merupakan peninggalan dari leluhur pendiri Kampung Pulo, yakni Eyang Embah Dalem Arif Muhammad dan pengikutnya.

Tiga rumah dalam satu deret berhadapan dengan tiga rumah lain di seberangnya, sementara di bagian ujung kampung terdapat masjid berikut tempat wudlu. Semua bangunan bentuknya sama, yakni memanjang atau jolopong mengarah ke utara dan selatan. Rumah ketua adat terlihat berbeda dengan yang lain, karena atapnya memakai penutup atap ijuk. Rumah adat yang lain memakai genting sebagai penutup atapnya.  Setiap rumah memiliki ruangan yang sama, yakni serambi, satu ruang tamu, satu kamar tidur, satu kamar tamu, dapur, dan gudang.


Lingkungan yang asri dan bersih tampak terlihat di Kampung Pulo. Begitu bersihnya, sampai tidak terlihat sama sekali sampah berceceran di kampung adat ini. Tentu saja, wisatawan pun akan malu jika membuang sampah sembarangan.

Menurut cerita rakyat, masyarakat Kampung Pulo dulunya beragama Hindhu, lalu Mbah Eyang Dalem Arif Muhammad singgah di daerah ini karena ia terpaksa mundur karena mengalami kekalahan pada penyerangan terhadap Belanda. Karena kekalahan ini Mbah Eyang Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram karena malu dan takut pada Sultan agung. Beliau mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat Kampung Pulo. Mbah Eyang Dalem Arif Muhammad beserta kawan-kawannya menetap di daerah Cangkuang yaitu Kampung Pulo. Sampai beliau wafat dan dimakamkan di Kampung Pulo. Beliau meninggalkan 6 orang anak Wanita dan satu orang pria.

Kini, ketujuh bangunan tersebut merupakan simbol. Enam rumah menandakan anak perempuan Mbah Eyang Dalem Arif Muhammad. Sedangkan satu mushala menandai anak laki-lakinya. Meskipun, sampai saat ini, belum diketahui silsilah keturunan Arif Muhammad dan kehidupan keluarganya.

Keunikan lainnya, yaitu pada jumlah keluarga yang menghuni rumah tersebut. Setiap rumah hanya diperbolehkan dihuni oleh satu kepala keluarga. Artinya, apabila ada anggota keluarga yang menikah dan berkeluarga, maka ia harus segera meninggalkan Kampung Pulo, maksimal dalam waktu dua minggu. Apabila kepala keluarga meninggal, maka hak waris jatuh pada perempuan. Hal ini dikarenakan, sistem kekeluargaan penduduk Kampung Pulo bersifat matrilineal. Selain itu, jika ada warga kampung yang meninggal, maka sanak keluarga yang semula berada di luar, boleh masuk kembali menjadi warga kampung, setelah melalui seleksi yang dilakukan ketua adat.

Masyarakat Kampung Pulo tidak diikat oleh hukum tertulis. Mereka hanya mengenal pamali sebagai istilah melanggar pantangan. Pantangan di Kampung Pulo harus dipatuhi penduduk itu sendiri maupun para wisatawan yang datang.

Pertama. Tidak boleh berziarah pada hari Rabu. Hal ini disebabkan pada hari Rabu, Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau menerima tamu, kecuali untuk belajar ilmu agama dan mengaji. Oleh karena itu, saat ini wisatawan tidak diperkenankan berziarah pada hari Rabu. Batas waktu hari Rabu, menurut kepercayaan penduduk Kampung Pulo, adalah ba’da Ashar di hari Selasa hingga ba’da Ashar di hari Rabu. Hal tersebut didasari perhitungan waktu dalam Islam.

Kedua. Tidak boleh membuat rumah beratap jure. Atap rumah harus tetap dibiarkan memanjang. Lalu dilarang menggunakan gong besar yang terbuat dari perunggu di setiap acara. Kedua larangan tersebut disebabkan cerita pada masa lalu. Konon, saat acara khitan anak laki-laki Embah Dalem Arif Muhammad, anak tersebut diarak menggunakan tandu berbentuk rumah-rumahan beratap jure. Pada acara tersebut juga terdapat gong besar yang terbuat dari perunggu yang digunakan untuk hiburan. Tiba-tiba sebuah angin topan memorakporandakan acara tersebut. Anak laki-laki Embah Dalem Arif Muhammad pun jatuh dan meninggal seketika.

Ketiga. Di Kampung Pulo dilarang memelihara binatang ternak berkaki empat, seperti: kambing, kerbau, dan sapi. Terdapat dua dugaan. Pertama, karena binatang ternak dikhawatirkan mengotori lingkungan setempat dan makam-makam keramat. Kedua, pada awalnya masyarakat masih memeluk agama Hindu. Sedangkan pemeluk Hindu memuja sapi. Dikhawatirkan pula, masyarakat sulit melepas kepercayaan itu.

Selain ketiga pantangan di atas, masih banyak hukum adat yang masih dijunjung tinggi penduduk setempat. Meskipun arus modernisasi lambat laun memengaruhi perilaku masyarakat Kampung Pulo, mereka tetap memegang teguh seluruh pantangan yang berlaku tersebut.


Situ Cangkuang, Candi Cangkuang dan keberadaan Kampung Pulo menjadi satu paket wisata di obyek wisata alam dan budaya Cangkuang, Garut. Memandang keindahan alam sekitar dengan nuansa pegunungan dan pepohonan yang mengitari pulau, sambil berwisata sejarah dan budaya serta berziarah, tentu akan membawa kesan tersendiri bagi wisatawan. (Traveller: Sigit Kurniawan). 

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.