Halloween party ideas 2015


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indoneia (FIBUI) Program Studi Sastra Jawa mengembangkan Sekolah Budaya Jawa di Desa Senden, Selo, Boyolali, Jawa Tengah.

Ditemui di Desa Senden, dosen Bahasa Jawa FIB UI Widhyasmaramurti menjelaskan, kontribusi pengabdian masyarakat (pengmas) UI ini dalam rangka mewujudkan Desa Senden sebagai desa wisata yakni dengan memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana menjadi tuan rumah yang baik dan ramah.

“Di antaranya setiap rumah di sini, setiap ada tamu pasti disuguhkan teh dengan gula aren. Kemudian, bagimana cara membuat home stay bagi turis asing maupun lokal yang datang berkunjung ke Desa Senden dan Desa lainnya di Kecamatan Selo,” ujar Widhyasmaramurti.

Upaya melestarikan budaya bangsa, FIB UI baru-baru ini telah meresmikan School of Javaness Culture (SJC). Targetnya adalah pelajar dan mahasiswa Indonesia dari pelbagai daerah dan luar negeri yang ingin belajar budaya Jawa selama dua pekan.

Sebut Widhyasmaramurti, di SJC mereka dikenalkan dengan makanan tradisional, bercocok tanam, panen dan mengenal kesenian rakyat di antaranya reog Topeng Ireng, nembang Jawa dan diajarkan permaian Ketoprak, fun walk, dan berkemah ceria di Bukit Kinasih yang berletak di lembah antara Gunung Merapi dengan Gunung Merbabu.

"Ini merupakan bentuk Pengmas UI. Di sini kami dibagi dua tim. Tim pertama bertugas mengemas paket-paket wisata serta menyiapkan masyarakatnya dalam menerima tamu. Sedangkan tim kedua bertugas membuat School of Javaness Culture," terangnya.

School of Javaness Culture ini mengambil waktu bersamaan dengan acara Festival Tungguk Tembakau yang disusul malamnya dengan proses ritual gunungan dan petik perdana tembakau.

Senada, Dwi Kristanto, Ketua Festival Tungguk Tembakau Senden yang juga Dosen Pengelola Matakuliah Universitas Indonesia (PM UI) ini jelaskan bahwa perayaan Tungguk Tembakau sebesar ini merupakan kali ketiga dilakukan di desa Senden. Sebelumnya, warga merayakan Tungguk Tembakau (ritual sajen) secara sporadis di ladang masing-masing sebelum panen.

"Ritual Tungguk Tembakau merupakan kekayaan budaya lokal yang sudah sejak dulu dipertahankan, meskipun sebelumnya warga merayakannya sendiri-sendiri di ladang masing-masing. Tujuannya sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar hasil panen tembakau melimpah. Sebelumnya mereka melakukan sesaji di ladang-ladang mereka berisi tumpeng, ingkung (ayam) dan beberapa uba rampe (jenang, jadah, buah-buahan, sayur-sayuran, dll). Setelah didoakan, mereka baru petik (panen) tembakau. Ini cara mereka menjaga keharmonisan dengan alam," kata Dwi.

Agar memiliki pembeda dengan tempat lain, ritual Tungguk Tembakau dikemas dengan festival karawitan, tari-tarian tradisional, jazz festival, ketoprak hingga wayangan selama dua pekan. (Reporter: Hendrik Raseukiy).

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.