Halloween party ideas 2015


Hamparan sawah kadang berselimut kabut tipis menjadi pemandangan lazim menyambut pagi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lahan padi seakan sejauh mata memandang juga masih bisa dinikmati hingga di kawasan kota kabupaten. Petani, anak anak berangkat sekolah bersepeda dan ibu-ibu paruh baya membawa hasil bumi ke pasar seperti sedang melintas di tengah pematang sawah, jika nampak dari kejauhan. Padahal, mereka berjalan dijalur beraspal yang cukup mulus. Bau rumput dan suasana menyegarkan seperti ini jamak ditemukan di Sukoharjo.

Potensi alam kabupaten terkecil kedua di Jawa Tengah belum banyak dilirik menjadi destinasi wisata kekinian. Wisata yang menawarkan suasana alami dan murah namun tetap mengutamakan keindahan. Padahal, Sukoharjo memiliki banyak potensi alam yang siap dikomersilkan untuk wisata. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sukoharjo sebagai pengelola pariwisata memetakan sejumlah wilayah potensial pengembangan wisata alam.

Kepala Disdikbud Sukoharjo, Darno mengatakan, wisata alam andalan Sukoharjo terbilang sangat minim. Warga umum dengan wisata air berupa pemandian di Batu Seribu, Bulu. Demikian halnya dengan tempat rekreasi baru berupa taman kota di Taman Pakujoyo Gayam, Sukoharjo. “Memang beberapa tempat wisata alam telah kami kembangkan. Yang baru ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan Gayam kerjasama dengan pihak kelurahan,” papar Darno.

Menurut dia, potensi wisata alam pada dasarnya cukup beragam dan menunggu diberdayakan. Mulai dari Gunung Sepikul diujung selatan Kecamatan Bulu, Embung Bangseng masih disekitar lokasi Batu Seribu, Waduk Mulur, Bendosari, Bendung Colo di Nguter dan masih banyak lagi. Dinas juga membidik potensi wisata air dari sumber air alami di Wilayah Desa Trangsan, Kecamatan Gatak. Tetapi lokasi lokasi tersebut masih alami dan belum tersentuh sama sekali. “Butuh banyak biaya mengembangkan potensi alam tersebut menjadi tempat pariwisata,” katanya.

Dengan keterbatasan anggaran, lanjut Darno, menjadi kendala pengelola dalam pengembangan pariwisata. Perlu ada inovasi seperti misalnya menggandeng pihak ketiga untuk operasional maupun pemanfaatan secara bertahap. Secara umum Sukoharjo tidak kekurangan tujuan wisata seperti belanja, kuliner maupun wisata edukasi semacam desa wisata rotan di Trangsan, kampung jamu Nguter hingga desa wisata kerajinan gamelan di Wirun, Mojolaban. “Membentuk tempat wisata harus mempertimbangkan kemudahan akses serta lingkungan. Jadi, butuh dukungan semua pihak agar berkelanjutan,” imbuhnya.

Dilain pihak, Lurah Gayam, Kecamatan Sukoharjo, Havid Danang Purnomo menyampaikan, pemanfaatan RTH menjadi Taman Pakujoyo telah medapatkan izin dari pemerintah daerah. Pemerintah kelurahan menata dan melengkapi taman dengan berbagai fasilitas yang hiburan. Seperti halnya lokasi swafoto berlatar taman bunga, telaga dan arena bermain anak anak guna menarik pengunjung. Pengelola juga menyediakan wisata edukasi berkonsep alam untuk anak anak Pendidikan Usia Dini (PAUD). Keberadaaan Taman Pakujoyo turut mengangkat ekonomi warga sekitar dengan menjamurnya aneka jajanan di sekitar taman. “Warga sekitar diberdayakan mengelola taman sekaligus memanfaatkan peluang usaha kuliner,” tutup Havid. (Kontributor: Deni Suryanti)


Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.