Halloween party ideas 2015


Apakah anda termasuk hobi berwisata ala backpacking dan bernyali besar.  Kalau begitu, destinasi yang satu ini direkomendasikan agar anda tapaki. Lau Mentar Canyon namanya, tersembunyi di balik Desa Rumah Liang.

Beruntunglah, pagi itu ada tumpangan dari komunitas pecinta alam Telapak Sumut yang hendak bergerak ke sana. Kami melakukan perjalanan dengan memburu mentari agar tidak naik hingga ke atas kepala, sebab akan memecah dehidrasi.

Sudah dipastikan, perjalanan memakan waktu selama tiga jam. Sepeda motor yang kami pacu harus melintasi kawasan Delitua, Talunkenas, Guning Rintih, Siguci, Beranti, Simpang Papan, Simpang Kawat, STM Hilir dan  Tiga Juhar. Serasa di Kota, jalanannya cukup ramai. Kepulan asap kendaraan berkali-kali menyambangin mata. Sesekali debu menembus ke rongga hidung. Di kiri dan kanan ada banyak warung kopi yang berjejer mewarnai pandangan mata.

Kemudian  frame pun berganti ketika memasuki daerah Tanjung Raja. Liuk-liuk pesrsimpangan yang patah menantang kelihaian sang pengendara dalam mengemudi. Pepohonan bambu di tepian tebing menjulangkan daunnya, hingga sesekali menghantam kaca helm.

Satu jam setengah berlalu, saat inilah diperlu kekuatan fisik, kerjasama tim serta kesabaran. Ya, jalanannya begitu sepi, hanya berupa jalur bebatuan. Namun, bukan sekedar bebatuan biasa. Tapi, tajam dan besarnya bebatuan tersusun acak dan  menanjak membuat perjalanan menjadi berguncang. Sekitar dua kilometer jalan ini harus ditempuh,  ban kendaraan yang dinaiki pun  berulang kali memental dan terpeleset dari satu batu ke batu lainnya.

“hufft,”  ini ujian, kami menarik nafas panjang sembari berdoa agar ban sepeda motor dalam kondisi baik-baik saja. Jalur batuan yang tadi ternyata belum seberapa, derasnya hujan yang mengguyur tadi malam membuat trek yang dilalui menjadi kubangan.

Siap, ayo dorong. Liatnya tanah yang berlumpur menahan ban kendaraan kami hingga berulang kali terjebak di dalam lumpur. Tak sekali, trek seperti ini berulang kali dijumpai hingga tiba di tujuan utama. Begitu melelahkan. Turun dari kendaraan dan harus membantu mengangkat kendaraan rekan lain yang terjebak di dalam kubangan. Namun, rasa kebersamaan serta indahnya alam membuat rasa lelah itu terabaikan


Selamat Datang Di lau Mentar Canyon

Sudah hampir tiga jam, waktu perjalanan yang  ditempuh. Kali ini, kami disuguhkan oleh panorama ilalang yang terhampar di teduhnya langit biru. Bunga rerumputan bermekaran di rimbunnya semak-semak. Awan perlahan bergerak, menutupi mentari yang bersinar. Tak ada burung yang berterbangan. Hanya ada suara jangkrik dan hewan-hewan kecil bersayap yang mendengung dari balik pepohonan.

Ssttt, ada perkampungan. Penduduknya pun langsung menebarkan senyum lebar pada kami. Inilah dia, Desa Rumah Liang, Kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Meskipun terbilang jauh dari perkotaan, penduduk Desa Rumah Liang yang dominan merupakan masyarakat Karo, sangat ramah kepada pendatang yang berkunjung ke kampung mereka.

Eitts, perjalan belum selesai. Di sini kita hanya numpang parkir kendaraan saja di salah satu rumah penduduk. Selanjutnya, baru dech  kita berjalan menyusuri jalan setapak  menuju lau Mentar Canyon.

Jarak sekitar 100 meter dari parkiran, kita bisa menemukan sebuah monumen berbentuk bambu runcing yang menandakan di tempat tersebut pernah menjadi markas pejuang pahlawan Indonesia. Namun, buka itu itu destinasi utama kita.

Tak begitu jauh, sekitar lima menit, sudah ada derasnya arus Lau Mentar yang membasuh lelah dalam perjalanan sebelumnya. Nah, itu dia Lau Mentarnya.  Di Pinggirrnya ada pondok yang beratapkan seng, kecil. Itu adalah generator pembangkit listik. Sumber energinya diambil dari arus Lau Mentar. Mereka memanfaatkan kincir air untuk dapat menghasilkan energi listrik yang hanya bisa di pakai untuk menghidupkan lampu kala malam hari saja. Biar gak gelap. Maklum saja, PLN belum menjangkau ke perkampungan ini.

Ayo, kita jalan. Untuk sampai ke tempat yang menakjubkan di Lau Mentar, kita harus berjalan dulu sedikit lagi. Melewati pinggiran Lau Mentar. Oh my God, terbayar sudah perjalan panjang  hari ini. Air terjunnya indah sekali. Mengucur deras menghempas ke bawah. Bebatuan besar raksasa tertata sempurna di sepanjang Lau Mentar.

Dan kalau lagi beruntung, akan ada gerombolan monyet yang bergelantungan di dahan-dahan pohon. Terkadang monyet-monyet itu juga suka iseng dengan menjatuhkan dedaunan pohon di atas kepala kita. Tak usah khawatir, mereka takkan menyakiti. Hanya memberikan kode saja kepada kita, bahwa mereka ada di sekitar kita dan berpesan jangan rusak habitat mereka. Menarik kan.

Coba ke arah sana, kita lanjut  dengan menyusuri  arah hilir sedikit lagi. Ada sebuah goa yang indah, dindingnya dihiasi berbagai ornamen yang membentuk batu Kristal,  Stalaktit, serta Stalagmit yang meruncing  dan seolah siap untuk menghujam ke bawah. Sesekali air menetes dari ujung batu tersebut dan mengukir lubang kecil di bawahnya.

Wah, maha karya yang agung, Seberkas cahaya menyusup dari balik-balik ranting yang bergantungan di luar gua. Menembus masuk ke dalam dan tampaklah coretan warna putih kuning, coklat muda, coklat kehitaman dan hitam yang membekas melumuri dinding-dinding gua. Basah, air mengalun di tiap lekukan gua.

Sempurna sekali kekaguman ini berdecak. Hanya rasa takjub saja yang tergambar dimata kami ketika menyaksikan  pesona eksotis yang masih tersembunyi ini. Hmm, Senangnya bisa melihat keindahan ini secara langsung. Sungguh, Pesona eksotis Lau Mentar Canyon yang takkan terlupakan. (Kontributor: Prasetyo)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.