Halloween party ideas 2015


Berwisata di tengah pandemi Covid-19 memang beda. Protokol kesehatan tetap harus terjaga, seperti memeriksa suhu tubuh, memakai masker, hand sanitizer, tissue basah serta face shield. Meski demikian, suasana indahnya berwisata tentu tetap bisa kita nikmati dan rasakan. Kesan dan kenangan tetap menjadi `oleh-oleh` spesial tiap berwisata.

Seperti yang kami lakukan saat berwisata ke Gunung Parang yang terletak di Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat. Gunung Parang merupakan gunung pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan jalur Ferrata dan diresmikan pada tahun 2015 lalu. Gunung ini merupakan gunung dengan jalur Ferrata tertinggi di Asia Tenggara.

Gunung Parang merupakan  pegunungan batuan andesit purba yang terjadi dari sebuah proses intrusi, di mana magma membeku sebelum muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api. Gunung batu berketinggian 963 mdpl ini diapit dua bendungan, yakni Bendungan Jatiluhur dan Bendungan Cirata.

Keistimewaan gunung yang lokasinya sekitar 28 km dari Kota Purwakarta atau 79 km dari Bandung adalah dimana gunung ini memiliki tiga puncak yang berbeda yaitu, Tower I, Tower II dan Tower III. Tiap tower pun memiliki operator yang berbeda. Selain keistimewaan itu, ternyata, gunung ini memiliki mitos yang sudah melegenda. Masyarakat sekitar sendiri mengenal gunung tersebut dengan nama Gunung Barang.

Perjalanan menuju lokasi pendakian Gunung Parang dimulai. Pagi itu, kami yang berjumlah 15 orang dari Komunitas Pengusaha Pariwisata Muslim Indonesia (KPPMI) berangkat menuju obyek wisata alam yang penuh tantangan ini. Bagaimana tidak, lokasi jalan menuju lokasi sangat berliku dan kecil sehingga jika mobil berpapasan pun harus berhati-hati. Belum lagi kanan dan kiri jalan yang merupakan jurang kecil menambah ’ngeri-ngeri sedap’ buat kami walau tetap mengasyikkan.

Menuju lokasi, memang hanya bisa mobil kecil yang masuk dan rombongan kami menggunakan mobil Long Elf `Mutiara Bunda` untuk bisa sampai ke lokasi.

Menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, akhirnya kami pun sampai ke obyek wisata alam yang penuh tantangan ini.

Sebelum memulai pendakian, kami menyempatkan diri untuk berfoto dengan latar belakang Gunung Parang. Dan setelah puas, kami pun mengenakan peralatan pengaman untuk naik ke atas tebing.

Untuk.menuju tebing kita harus jalan kaki dan masuk hutan sekitar 150 meter. Beruntung kami mengunjungi datang saat cuaca panas. Jika saat musim hujan, tidak terbayang, jalan di hutan tentu licin. Oya, bagi wisatawan, jangan lupa untuk membawa lotion anti nyamuk, sebab di lokasi ini banyak nyamuk-nyamuk kecil yang tentu sudah siap untuk menggigit kita. Alhasil, kita tentu akan sedikit gatal.

Perjalanan ratusan meter telah ditempuh, tibalah kami di kaki gunung. Kami pun siap untuk mendaki Gunung Parang, setelah sebelumnya kami mendapat briefing dari guide. Sekaligus kami mempraktekkan semua petunjuk yang diberikan guide.

Track memanjat hanya besi berbentuk U yang ditancapkan tiap 30 hingga 50 cm pada dinding tebing. Woww....lumayan ngeri juga ya....tapi kami harus bisa dan menaklukkan Gunung Parang. Sempat juga terbayang, bagaimana jika besi yang menjadi pegangan kita saat memanjat dan kita sudah berada di ketinggian tertentu itu copot....ahh, gak kebayang rasanya.

Untungnya, guide meyakinkan bahwa besi-besi trakc panjat tersebut sangat kuat dan aman untuk digunakan.

Beberapa kawan, khususnya kaum pria yang lebih dulu memanjat sudah sampai di ketinggian 150 meter. Mereka bisa beristirahat di dalam gua dengan ditemani kopi dan teh dingin sambil tentunya menikmati pemandangan alam sekitar dari ketinggian.

Puas menikmati alam sekitar dari gua di atas ketinggian 150 meter, tibalah saat kami harus turun dari atas gunung. Nah, bagi yang sudah sampai di atas ketinggian 150 meter ada dua cara yang bisa dilakukan untuk bisa turun kembali. Pertama adalah dengan kembali turun dengan melalui cara yang sama saat naik yakni dengan menggunakan besi-besi yang ditancapkan di dinding atau dengan menggunakan tali yang diulur dari atas.

Anggota rombongan, khususnya kaum ibu yang tidak sampai di ketinggian 150 meter, tentu tidak bisa menggunakan tali dan mau tidak mau harus kembali turun dengan cara yang sama saat menaiki gunung. Dan itu dialami sebagian anggota rombongan yang hanya mampu memanjat gunung di ketinggian sekitar 50 meter.
Cukup melelahkan memang dan rombongan sangat puas dan senang tentunya. Dan perjalanan wisata dilanjut ke Gunung Bongkok setelah makan siang dan salat Dzuhur. Di lokasi Gunung Bongkok, wisatawan dapat menikmati beberapa fasilitas yang disediakan seperti kolam renang buatan yang juga digunakan untuk mandi masyarakat setempat.

Oya, bagi wisatawan yang mengunjungi Obyek Wisata Gunung Parang, jangan lupa sempatkan untuk menikmati kuliner khas Purwakarta yakni Sate Maranggi.

Untuk dapat mencapai Gunung Parang, berbagai pilihan transportasi dapat digunakan oleh para pengunjung. Jika membawa kendaraan pribadi dari Jakarta, arahkan masuk ke jalan Tol Cipularang. Setelah menyusuri jalan tol, jangan sampai terlewat untuk keluar di pintu tol Ciganea/Jati Luhur.

Setelah keluar, pengunjung akan bertemu pertigaan jalan, belokan kemudi mobil ke arah Plered, Purwakarta. Setelah berada di jalan menuju Plered, terdapat dua pilihan jalan untuk dapat tiba di Gunung Parang.

Yang pertama adalah melewati Cilalawi, Pasar Warung Panjang dan yang kedua adalah Pasar Plered Pilihan jalur pertama terdapat di persimpangan pasar Warung Panjang melewati medan yang berkelok-kelok sejauh hampir 15-16 kilometer dengan medan yang menanjak dan berkelok-kelok di perbukitan.

Sementara jalur kedua adalah melewati Pasar Plered dan kemudian melewati penambangan batu hingga tiba di Gunung Parang. Jalur kedua ini dapat ditemui sekitar lima kilometer setelah jalur persimpangan Pasar Warung Panjang.

Jika ingin menggunakan transportasi umum, bisa naik bus tujuan Purwakarta yang melewati Tol Cipularang. Kemudian turunlah di Pintu Tol Ciganea/Jati Luhur dan disambung angkutan umum jurusan Purwakarta-Plered yang berwarna hijau. Turun di Pasar Plered dan sambung dengan angkutan desa ke arah Kampung Cihuni.

Tak terasa, perjalanan wisata di Gunung Parang pun usai. Ada kesan yang tentunya menyenangkan dalam perjalanan wisata kali ini meski masih di tengah pandemi Covid-19. Sesuai visi misi Komunitas Pengusaha Pariwisata Muslim Indonesia (KPPMI) yang saat ini telah memiliki 100 lebih anggota yang tersebar di enam wilayah di Indonesia, tentunya, upaya memajukan pariwisata, khususnya pariwisata Nusantara akan tetap kami perjuangkan untuk terus maju di masa depan. (Kontributor: Rose) 

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.