Halloween party ideas 2015

Seperti biasa, di hari Minggu, gowes menjadi pilihan untuk berolah raga. Dan kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) menjadi tujuan. 

Pukul 06.00 WIB, bersama beberapa teman, kami bersepeda menyusuri beberapa ruas jalan untuk sampai ke kawasan Bundaran HI yang tentu sudah banyak warga yang juga berolah raga di sana.

Kami tiba, sekitar pukul 06.45 WIB. Suasana begitu ramai dengan warga yang berolah raga, seperti berjalan, jogging, dan bersepeda. Kami memilih untuk berbelok menuju kawasan taman di sekitar Jl Sudirman untuk beristirahat sambil menikmati teh dan kopi hangat serta cemilan yang bisa dibeli di pedagang yang ada di sepanjang trotoar. 

Cukup lama, kami beristirahat dan matahari mulai menampakkan diri. Kami pun sepakat untuk pulang namun, kali ini kami tak langsung pulang, tapi kami akan mengunjungi Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution.

Melewati Taman Surapati, kami menuju ke arah Jl Teuku Umar No.40, Menteng, Jakarta Pusat, di mana lokasi museum berada. Di gerbang, kami disambut petugas/guide yang ramah sambil mempersilakan untuk memarkir sepeda kami di halaman.

Untuk masuk ke Museum yang diresmikan pada 3 Desember 2008 oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan hari lahir Jenderal Abdul Haris Nasution pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk. Pengunjung hanya mengisi daftar tamu. Museum dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Museum ini dulunya merupakan rumah Jenderah AH Nasutinon. Rumah ini merupakan saksi bisu kisah tragis G-30S/PKI. Kisah tragis tersebut bisa ditelusuri di museum ini.

Memasuki museum, wisatawan dapat melihat diorama-diorama seperti penyerangan AH Nasution di kamar tidurnya, penodongan senjata kepada Ibu Nas, dan penangkapan Lettu Pierre Tendean oleh pasukan Tjakrabirawa. Sebuah diorama yang menggambarkan tentang AH Nasution yang tengah mencoba kabur dari kejaran pasukan Tjakrabirawa dengan melompati tembok juga bisa wisatawan lihat. 

Beberapa lubang bekas tembakan baik di tembok, pintu dan meja hingga kini masih dipertahankan. Bekas peluru tersebut ditandai jelas dengan lingkaran merah. Ini menjadi bukti adanya penyerangan di rumah AH Nasution pada peristiwa G-30S/PKI. 

Menuju ke ruang makan, wisatawan dapat melihat patung pasukan Tjakrabirawa yang mengarahkan senjata ke arah Ibu Nas yang sedang mengggendong Ade Irma Suryani. Kondisi Ade Irma sendiri sudah berlumuran darah.

Sebuah ruangan khusus yang memamerkan foto-foto, lukisan serta peninggalan Ade Irma Suryani seperti boneka, tas kulit kecil dan tempat minum plastik dapat wisatawan lihat. 

Di museum ini, wisatawan juga bisa melihat beberapa diorama yang menceritakan tentang perjuangan AH Nasution. 

Menuju ke Ruang Relik, di sini wisatawan akan diperlihatkan dengan pakaian yang dikenakan para korban saat diculik, juga hasil visum dari dokter. Ada juga alat bantu pernafasan yang dikenakan tim evaluasi jenazah dari dalam sumur.

Sebuah kolam, yang menjadi tempat bermain Ade Irma Suryani sebelum meninggal dunia akibat terjangan peluru G-30S/PKI bisa dilihat di ruang belakang museum. 

Menyusuri lorong waktu, mengenang peristiwa kelam masa lalu, peristiwa G-30S/PKI saat melakukan penculikan tujuh jenderal AD pada 30 September 1965, termasuk upaya menculik Jenderal AH Nasution wisatawan seolah menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut. Yuk, berkunjung ke Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution. 




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.