Halloween party ideas 2015

Dusun Cemanggal merupakan satu daerah atau kawasan pendahulu sebagai kampung tua di Gunung Ungaran atau dalam bahasa Jawa tua yakni winggit. Melihat corak kehidupan warga juga kegiatan adat dan budaya yang sangat agung. Salah satunya adalah kegiatan adat istiadat Nyembelih `Manusia Bekakak` yaitu tradisi penyembelihan manusia bekakak. 

Nyembelih Manusia Bekakak ialah salah satu kegiatan adat masyarakat Cemanggal dalam satu ritual upacara adat yang dilakukan pada hari Sabtu pon dalam pada bulan Jumadhil Akhir dalam kalender Jawa. Prosesi kegiatan adat ini adalah rangkaian dari kagiatan kadeso atau ruwatan desa. Di mana setiap setahun sekali seluruh warga akan berkumpul di halaman sesepuh desa atau kepala dusun untuk mensyukuri limpahan kesuburan tanah dan hasil bumi. Juga segala bentuk rasa syukur masyarakat kepada kehidupan di lereng Gunung Ungaran, Dusun Cemanggal, Desa Wisata Munding, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.  

Sebelum memulai acara pada pagi hari, seluruh warga Cemanggal sudah berkumpul bersama segala macam masakan dan kebutuhan yang akan digunakan dalam upacara Nyembelih `Manusia Bekakak` ini. Setelah seluruh warga berkumpul dan segala kebutuhan dan perlengakapan siap seluruh warga akan berjalan bersama melewati jalan dusun dan melewati lereng Gunung Ungaran menuju salah satu sumber mata air kramat yang berada di sisi sebelah timur Gunung Ungaran. tepatnya di Curug Dawang yang berada pada ketinggian sekitar 1.500 MDPL. 

Karena banyaknya barang bawaan yang akan digunakan dalam prosesi ini, warga akan memikul secara bergantian ketika membawanya mulai dari nasi ingkung, sayur gecok, ayam bakar, `manusia bekakak` juga kebutuhan yang lain dibawa dengan mengunakan senek sebutan warga untuk penampung barang bawaan yang terbuat dari rajutan bambu. 

Juwanto Kepala Dusun Cemanggal manuturkan “Bekakak sendiri adalah salah satu simbol dari upacara adat masyarakat Cemanggal. `Manusia Bekakak` ialah sebuah wajik ketan yang dibuat menyerupai manusia. Ia berjenis kelamin laki laki lengkap dengan juroh atau air tape singkong yang dicampur dengan gula aren yang disimbolkan seperti darah. Kemudian `Manusia Bekakak` ditaruh pada tampah besar dan dibawa ke Curug Dawang untuk selanjutnya akan dilakukan prosesi upacara adat berupa penyembelihan manusia bekakak ini. 

Bekakak sendiri dahulunya adalah manusia yang dipersembahkan untuk disembelih setiap setahun sekali, sebagai bentuk bakti kehidupan kepada Sang Penguasa yang sudah memberi kehidupan berikut alam dan isinya. Tetapi setelah melalui proses dan ritual yang panjang berikut segala kegiatan adat budaya yang ada terhitung sekitar abad ke 16 `Manusia Bekakak` yang disembelih setiap setahun sekali ini digantikan dengan wajik ketan yang dibentuk menyerupai manusia. Lengkap dengan darah yang dikalungkan pada leher `Manusia Bekakak` ini. "Jadi ketika di sembelih akan keluar cairan juroh menyerupai darah manusia,” kata Juwanto.

Sementara dalam waktu bersamaan Nukhan Dzu Khalimun Penggiat Literasi dan Kebudayaan yang kebetulan juga salah satu Koordinator Pokdarwis Desa Wisata Munding. memaparakan responnya terhadap penyelengaraan acara yang tetep mempertimbangan kondisi di tengah wabah Covid-19. Berusaha untuk berdamai di tengah kondisi yang demikian , upacara adat Nyembelih `Manusia Bekakak` tetap berjalan dengan tetap mengindahkan aturan protokol kesehatan dan saling menjaga kesadaran. Dari segi jumlah warga ikutpun hanya sekitar 30 persen. Mengigat terkait menghindari kerumunan secara massal

Upacara adat dan pelaksanaan Nyembelih `Manusia Bekakak` ini bukan hanya perkara kegiatan yang harus dilaksanakan saja. Ada kandungan nilai falsafah hidup juga kaidah budaya yang warga Cemanggal harus jalankan. Nyembelih `Manuisa Bekakak` adalah bentuk bakti mereka kepada kehidupan juga terkait upaya mereka untuk menjaga kelesatarian alam dan warisan budaya leluhur.

“Yang terpenting bagi kita adalah satu kesadaran bersama untuk merespon baik dan bijak. Aspek lain yang perlu digaris bawahi, adat maupun tradisi yang tersebar di seluruh Nusantara adalah satu kesatuan dalam pola kehidupan masyarakat di dalamnya. Satu cermin besar akan kekayaan khasanah bangsa ini. Upacara adat dan kebudayaan adalah bangsal besar untuk menjaga nilai-nilai tradisi sekaligus sebagai pertahanan lokalitas budaya," ucap Nukhan. (Redaksi) 

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.