Halloween party ideas 2015


Festival Rampak Genteng, event rutin tiga tahunan yang diinisiasi penggiat seni dari Jatiwangi art Factory kembali dihelat. Bertempat di bekas PG Jatiwangi, festival yang melibatkan puluhan kelompok masyarakat itu kembali digelar pada Kamis (11/11) sore.

Cuaca redup dengan diiringi gerimis, tidak mengurangi semangat 1000 peserta festival. Dengan mengikuti arahan komposer, mereka bersama-sama membunyikan alat musik Genteng secara serempak.

Kendati Genteng yang jadi alat musik itu sama persis dengan genteng pada umumnya, tetapi bahan yang terbuat dari tanah liat itu sukses menghadirkan bebunyian yang berirama. Alhasil, tercipta sebuah seni musik yang harmonis, antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

"Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Ada sekitar 1000 peserta yang ambil bagian dalam Rampak Genteng ini. Mereka berasal dari komunitas, sekolah dan kelompok ibu-ibu," kata panitia Rampak Genteng, Ahmad Thian Vulthan, seusai acara.

Sebagai pengiring suara bunyi Genteng, ada beberapa lagu yang dibawakan. Lagu-lagu termasuk semuanya diciptakan oleh seniman lokal, yang biasa beraktivitas di JaF. Selain lagu-lagu berbahasa Indonesia, ada juga syair Salawat yang dibawakan, sebagai pengiring suara bunyi Genteng itu.

"Tahun ini kami mengambil tema Do'a Tanah. Jadi, ada beberapa Shalawat yang dibawakan. Peserta juga sebagiannya dari kalangan pesantren yang ada di Kecamatan Jatiwangi," jelas dia.

Sementara, karena masih dalam kondisi Pandemi, peserta Rampak Genteng tahun ini dibatasi, hanya 1000 orang dan jumlah penonton sekitar 500 orang. Selain pembatasan kuota, pengunjung diperiksa suhu tubuh dan melewati pintu khusus.

Sementara Direktur Infrastruktur Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf RI, Hariyanto menjelaskan festival rampak genteng bukan hanya diakui di tataran nasional tapi juga internasional.

"Festival ini juga ditestimoni dari berbagai mitra di luar negeri, kemudian rampak genteng ini juga jadi event unggulan yang terkurasi," tandasnya.

Festival ini juga dipastikan sudah melalui penyelenggaraan yang menerapkan CHSE,  yaitu prinsip kebersihan, kesehatan, keamanan dan keberlangsungan lingkungan.

"Kita semua pakai masker, peserta dibatasi yang biasa 3ribu peserta sekarang jadi 1000. InshaaAllah tahun 2024 manakala Pandemi sudah jadi endemi dan covid sudah bisa teratasi, festival ini akan jauh lebih besar lagi dan Kemenparekraf beserta kelembagaan Menteri lain pasti mendukung sepenuhnya," kata Haryanto.

Genteng-Genteng Bekas Rampak Genteng Disumbangkan untuk pembangunan Pesantren

Event Rampak Genteng telah selesai dilaksanakan pada Kamis (11/11) sore. Kendati dengan sejumlah pembatasan, tetapi event tersebut terlihat berjalan cukup meriah.

Seusia event, seribuan Genteng bekas Rampak Genteng itu akan dimanfaatkan untuk pembangunan salah satu lembaga pendidikan di Kabupaten Majalengka. 

"Kalau event sebelumnya, kami salurkan untuk warga yang merenovasi Rutilahu. Untuk tahun ini Genteng-Genteng itu akan disalurkan ke pondok pesantren di Kecamatan Majalengka yang sedang pengerjaan perbaikan. Tentunya Genteng-genteng yang masih layak yang kami salurkan," kata Ahmad Thian Vulthan,

Tidak hanya Genteng bekas saja. Stik bekas pemukul Genteng pun akan disalurkan kepada mereka yang dinilai bisa memanfaatkannya. Rencananya, stik-stik bekas itu akan disalurkan kepada pedagang Sorabi.

"Untuk bahan bakar. Karena kan di kita masih ada pedagang Sorabi yang menggunakan kayu bakar," jelas dia. (Kontributor: Eca)

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.